Do Good Design: Etika & Tanggung Jawab Sosial Desainer Profesional

Jun 09, 11 Do Good Design: Etika & Tanggung Jawab Sosial Desainer Profesional

Liputan Do Good Indonesia di Yogyakarta oleh Indonesia Kreatif

Desain
| 09 Juni 2011

oleh Jaya Limas

Jogjakarta – Dua buah layar besar nampak mengapit burung Garuda yang terpasang di tengah-tengah dinding Sasana Ajiyasa yang berlokasi di kompleks Jogja National Museum. Layar di sebelah kiri menampilkan laman twitter yang terus dibarui oleh teks-teks dengan hashtag DoGoodIndonesia, sedangkan layar di sebelah kanan menampilkan poster merah menyala bertuliskan “Wedangan Spesial #8: InDOnesia GOOD, Senin, 30 Mei 2011″. Di bawah burung Garuda tertata apik satu set kursi dan meja beserta beberapa lampu hias yang merupakan kreasi dari Lunar.

Malam itu juga terdapat dua buah gerobak angkringan dan satu buah gerobak wedang ronde diparkir di kedua sisi dalam gedung. Beberapa tikar digabung dan digelar di tengah-tengah ruangan tepat di depan perangkat meja-kursi. Waktu menunjukkan pukul 8 malam dan telah hadir sekitar 100 pengunjung menunggu dimulainya acara creative sharing malam itu yang menghadirkan David B. Berman, desainer grafis dan penulis dari Kanada yang saat ini menyibukkan diri sebagai pembicara ahli soal desain, etika dan tanggung jawab sosial. Kedatangan David Berman ke Yogyakarta yang merupakan kota kedua yang dikunjunginya di Indonesia setelah Jakarta ini difasilitasi oleh ADGI (Asosiasi Desain Grafis Indonesia), Scopa Jubilee dan Aikon.

Beberapa jam sebelumnya David Berman dan Arief Budiman, Ketua ADGI, mengadakan konferensi pers yang diadakan di R&B Grill. Dalam kesempatan itu David Berman menjelaskan secara singkat mengenai buku yang ditulisnya “Do Good Design: How Design Can Change The World” yang edisi Bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Aikon pada bulan Januari 2011. Dalam buku itu David Berman tidak hanya berbicara mengenai desain yang baik, namun juga berbagai macam tindakan positif yang harus dilakukan oleh seorang desainer. Menurutnya saat ini banyak iklan yang kreatif namun isi iklan tersebut membodohi dan menyesatkan masyarakat. Untuk itu David Berman mengajak siapapun dan apapun profesinya untuk setidaknya menyisihkan 10% dari waktunya untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik.

Arief Budiman berikutnya mengatakan bahwa buku Do Good Design tidak hanya sebagai bahan referensi bagi para desainer, namun bisa menjadi acuan agar menghasilkan karya-karya yang bertanggung jawab serta berkontribusi mengatasi masalah-masalah sosial sehingga memberikan dampak yang baik bagi masyarakat

Mundur hampir satu jam dari jadwal, Iqbal dari Reka Rupa sebagai pelaksana acara akhirnya membuka acara dengan keterangan singkat tentang Wedangan Creative dan pengantar tema Wedangan #8. Selanjutnya tampil kelompok musik yang memainkan musik perkusi dengan instrumen musik yang tidak lazim yaitu helm. Pertunjukan kelompok perkusi ini mendapatkan sambutan yang sangat meriah dari hadirin.

Selain David Berman, malam itu juga diundang Samuel Indratma dan Ong Hari Wahyu dari kelompok Magersaren Art Project (MAP) yang berbagi tentang kegiatan MAP. Proyek yang saat ini dilakukan oleh MAP adalah memajang karya seni publik di ruang publik secara berkala. Beberapa karya seni publik bisa dilihat di Nol Kilometer di ujung Selatan Jalan Malioboro Yogyakarta. Karya-karya seni publik itu akan dipamerkan selama 6 bulan sebelum diganti dengan karya lain. Sejak Januari lalu terpasang karya Budi Ubrux yaitu patung setinggi 3 meter yang berupa nasi bungkus daun pisang yang dilambari kertas koran. Patung itu merupakan monumen atas solidaritas warga Yogyakarta saat Merapi meletus akhir tahun lalu. Selain karya Budi Ubrux, di taman-taman kecil di sana juga dipajang beberapa karya dari besi yang berbentuk aksara Jawa.

Samuel Indratma mengatakan bahwa sebuah karya seni publik haruslah dapat menunjukkan ciri atau identitas sebuah kota dan harus dapat melestarikan nilai-nilai kearifan lokal. Di saat setiap jengkal wajah kota kian disesaki oleh serbuan iklan dan jargon pemerintah, karya seni publik diharapkan dapat memanusiakan kembali wajah kota agar kota bisa menjadi hidup dan menjadi milik semua warga.

Sesi berikut creative sharing diisi oleh David Berman yang secara garis besar menyampaikan bahwa desainer memiliki posisi yang sangat penting dalam masyarakat karena dengan kreativitas dan desainnya mereka dapat mempengaruhi lingkungan dan masyarakat. Pengaruh yang muncul saat ini lebih banyak kurang bagusnya daripada yang bagus. Banyak iklan bagus yang jika diperhatikan lebih lanjut isinya membodohi dan menyesatkan masyarakat.

Menurut David Berman, desain yang bagus adalah desain yang berkelanjutan terhadap lingkungannya. Seorang desainer mempunyai tanggung jawab sosial dalam melakukan pekerjaannya. Dengan kemampuan kreatifnya mereka harus dapat menyumbangkan hal yang baik bagi masyarakat dan lingkungannya.

Kasus demi kasus kemudian dipaparkan oleh David Berman sebagai contoh desain dan iklan yang menyesatkan dan tidak memiliki tanggung jawab sosial. Salah satu contoh yang dipaparkan adalah sebuah iklan mobil yang menggunakan tag line bahwa memiliki mobil tersebut berarti memiliki kebebasan. Namun dengan kondisi lalu-lintas seperti di Jakarta, memiliki mobil lebih berarti menjadi terkungkung.

Contoh lain yang dipaparkan adalah tentang satu produk minuman ringan yang hampir menguasai sebuah negara di Afrika. Hampir di semua tempat terdapat brand produk tersebut bahkan sampai fasilitas-fasilitas umum termasuk papan penanda nama jalan. Namun sangat ironis ketika negara tersebut terserang wabah malaria, harga obat malaria sama dengan harga produk minuman ringan itu.

Karena komunikasi visual adalah hal yang masih baru, masyarakat tidak bisa diharapkan mampu melek visual semampu mereka melek huruf. Namun kemampuan ini semakin berkembang. Untuk membuktikannya David Berman menampilkan beberapa potongan kecil dari logo-logo perusahaan dan produk di layar yang semuanya dapat dikenali dengan cepat oleh pengunjung. Dengan semakin bertambahnya kemampuan melek visual, masyarakat menjadi lebih sadar visual dan media. Karenanya segala sesuatu yang terlihat akan lebih cepat mempengaruhi.

David Berman dalam kesempatan itu juga mengajak pengunjung khususnya desainer dan calon desainer untuk berani menolak menerima pekerjaan dari perusahaan yang mengharuskan mereka berbohong kepada masyarakat. Hal ini tentunya harus dilakukan secara bersama-sama dengan bergabung dengan wadah-wadah seperti ADGI dan menjalin komunikasi dengan sesama desainer serta saling menghormati. Tentunya agar semua berjalan lancar diperlukan adanya panduan profesi atau kode etik profesi. Dengan demikian tidak akan timbul ketakutan seperti “jika saya menolak pekerjaan ini, maka orang lain akan mengambilnya”. David Berman juga menawarkan diri untuk membantu menyusun kode etik desainer di Indonesia dan mengajak yang ingin menyumbangkan pikiran untuk bergabung.

Kode etik untuk desainer grafis, yang juga mencakup tanggung jawab sosial, yang disusun oleh David Berman saat ini banyak dipakai sebagai panduan penyusunan kode etik desainer grafis di dunia. Kode etik yang disusun sejak tahun 1984 itu akhirnya diratifikasi secara nasional oleh Ikatan Desainer Grafis Kanada pada tahun 2000 dan sekarang dipakai sebagai panduan untuk organisasi-organisasi desainer grafis nasional oleh Icograda (International Council of Graphic Design Associations).

Dengan berlandaskan kode etik profesi, David Berman berharap desainer dapat membantu memperbaiki kondisi masyarakat dan lingkungan. Desainer harus mampu berperan penting dalam menciptakan dunia yang lebih adil dengan mengaplikasikan keahliannya untuk meningkatkan kondisi sosial di seluruh dunia.

Creative sharing malam itu ditutup oleh David Berman dengan kembali mengajak semua yang hadir untuk menyumbangkan sedikitnya 10% dari waktu yang dimiliki untuk berbuat baik, bahkan yang terbaik agar dunia bisa menjadi tempat yang lebih baik.

Leave a Reply