Buku Bagus Ajak Designer Do Good
Buku terbitan aikon
Do Good (Design)
Bagaimana Desainer dapat Mengubah Dunia
David B. Berman
Cetakan Pertama Edisi Bahasa Indonesia, 2010
135 x205 mm
xvi + 180 halaman
Beli online: Toko Aikon
Sinopsis
Bagaimana desain membantu dalam pemilihan presiden?
Mengapa banyak orang membeli rumah yang tidak mampu mereka beli?
Mengapa produsen mobil Amerika sekarang berjuang untuk hidup?
Sebenarnya mengapa krisis lingkungan itu terjadi?
Desain menjadi berarti, tidak seperti sebelum-sebelumnya.
Melucuti senjata penipu masal
Para desainer menghadirkan apa yang kita lihat, pakai, dan alami. Di era krisi lingkungan, sosial, dan ekonomi ini, para desainer dapat menentukan untuk ‘ingin dianggap apa’. Apakah menciptakan kebohongan yang mendorong konsumsi yang berlebihan ATAU mendorong perbaikan di dunia.
Do Good Design adalah panggilan untuk melakukan aksi:
Buku ini mengingatkan para perancang pada peran yang dimainkan dalam mempengaruhi khalayak global untuk memenuhi kebutuhan yang diciptakan. Buku ini menggaris bawahi kegiatan yang berkelanjutan untuk menghadapi praktik dan konsumsi sebuah desain. Banyak profesional yang akan terinspirasi oleh pesan tentang bagaimana sebuah industri dapat merasakan dirinya lebih baik dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang ditetapkan.
Saat ini, setiap orang adalah seorang perancang. Dan masyarakat di masa depan adalah proyek desain kita bersama.
RESENSI
Oleh Arief Adityawan S
Dari sampul muka buku itu sudah tergambar isinya yang provokatif. Penulisnya, David B. Berman adalah seorang desainer Kanada yang kini aktif bergiat dalam upaya menyebarkan etika desain bersama Icograda dan Society of Graphic Design of Canada, dan beberapa organisasi profesi lainnya. ‘Creative Brief’ dari buku ini adalah: melucuti senjata penipuan massal - disarming the weapons of mass deception. Para eksekutif dan direktur pemasaran dan periklanan berbagai perusahaan besar mungkin ‘gerah’ membaca buku Berman ini. Mulai dari industri minuman soda seperti Coca Cola, ataupun industri yang terbiasa memanfaatkan tubuh perempuan sebagai penarik perhatian dalam iklan-iklannya, dan terutama sekali tentu saja, industri tembakau, semua mendapat kritik tajam dari Berman.
Berman dengan gamblang membandingkan betapa berbedanya adab beriklan di negaranya (dan negara ‘beradab’ lainnya) dibandingkan adab beriklan di negara dunia ketiga. Di Kanada, industri tembakau tak boleh memasang iklan di tempat mana kemungkinan bisa dilihat oleh anak-anak: “…all tobacco advertising likely to be viewed by children is illegal in Canada” (hlm 15). Sementara di Afrika iklan tembakau tersebar dimanapun (sebagaimana juga di Indonesia). Demikian juga etika beriklan di negara maju, termasuk juga Brazil, yang melarang ruang publik ‘dibajak’ oleh pemasangan billboard-billboard yang merampas kebebasan pemandangan yang dimiliki oleh warga kota. Beberapa hal penting yang coba diringkas oleh Berman di awal bukunya adalah (hlm. 2):
• Designers have far more power than they realize..
• The largest threat to humanity’s future just may the consumption of more than necessary
• The same design that fuels mass overconsumption also holds the power to repair the world.
• We can each leave a larger legacy by propagating our best ideas than by propagating our chromosomes
• So dont just do good design, do good.
Apa yang ingin ditekankan oleh Berman bahwa Desainer adalah sekumpulan profesional yang memiliki kemampuan dahsyat untuk mempengaruhi orang ke jalan yang benar, ke kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu Berman mengajak pembacanya untuk berjanji:
1. waktunya untuk berkomitmen adalah sekarang
2. “saya akan jujur pada profesi saya”
3. “saya akan jujur pada diri saya”
4. “saya akan sisihkan 10 persen waktu profesional saya untuk membantu memperbaiki dunia”
Janji berbuat baik bagi para desainer ini sesungguhnya merupakan sebuah jalan tengah yang adil dan realistis. Berman, sebagaimana juga Manifesto First Things First tak pernah meminta desainer untuk meninggalkan pekerjaan yang mendatangkan uang. Masalahnya adalah bagaimana para desainer bersikap jujur dan kritis dalam menjalankan kerja kreatifnya.
Erik Spiekermann, seorang desainer dan tipografer terkenal, pada pengantarnya menyatakan bahwa ‘..kita harus sepenuhnya sadar akan apa yang kita lakukan untuk siapa kita bekerja, dan bagaimana pekerjaan itu mempengarhi orang lain… desain adalah sebuah bisnis dan harus hidup menurut aturan bisnis…” Menurut Spiekermann lebih lanjut bahwa masih ada secercah harapan untuk tumbuhnya kesadaran dan tanggung jawab walau di dunia bisnis/industri – sebuah dunia yang mana kita tak merasa jadi bagian darinya tapi juga tak bisa lepas dari dunia tersebut.
Buku ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Aikon, penerbit yang dulu pernah menerbitkan majalah komunitas gratis berwawasan lingkungan, pimpinan Enrico Halim. Dalam pengantarnya dia berharap bahwa penerbitan buku ini dapat menggugah siapapun, khususnya para desainer untuk menjadi agen perubahan sosial demi kondisi dunia yang lebih baik. Hal ini digarisbawahi pula oleh Arief ‘Ayip’ Budiman, chairman Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI) yang menyatakan bahwa “upaya dan kontribusi desainer bagi perubahan sosial adalah upaya mengasah sensitifitas dan melatih kepekaan profesinya merespon setiap problematika yang ada. Menguasai problematika sosial membuat seeorang desainer memahami posisinya sebagai anggota masyarakat..” (hlm. xiv). Idealisme penerbitan buku ini pun tercermin dari upaya penerbit memberi dukungan pada percetakan sekaligus laboratorium milik Sekolah Menengah Kejuruan Grafika di Desa Putra, Srengseng Sawah, Jagakarsa – Jakarta Selatan. Sementara kertas yang dipilih adalah kertas duplikator hasil pabrik kertas di Leces – yang berbahan baku 100% kertas bekas-pakai.
Secara keseluruhan buku ini menggugah, dan terus menerus mengganggu pikiran hingga hal-hal yang nampaknya kecil: gantilah bolpen sekali-pakai-buang kita yang akan menambah tinggi gunung sampah plastik – ganti dengan bolpen permanen. Ajakan-ajakan sederhana yang mengingatkan kita, bahwa bila kita sebagai desainer ingin menciptakan perubahan melalui karya-karya desain kita, maka berubahlah lebih dulu menjadi baik, Do Good, sebelum membuat karya desain yang baik. “Be the change you want to see in the world” (Mahatma Gandhi, 1869 – 1948).
Arief Adityawan S. dapat dikunjungi di: Jurnal Grafis Sosial











Nuhun, segera masuk daftar buku yg HARUS dibaca